September 2009

24 Feb 2011

Pagi itu dibulan September 2009 kurang lebih pukul sepuluh pagi telpon di mejakerjaku berdering, terdengar suara direkturku diseberang , beliau memanggilku supaya menghadap ke ruangan. Bergegas saya pergi menghadap, terlintas dalam pikiranku,hal-hal yang mungkin akan dibicarakan.Paling paling tidak jauh dari pekerjaan di divisiku, atau mungkin mengenai project instalasi telkom yang saat itu sedang berjalan.

Diluar perkiraanku, ternyata boss ingin menyampaikan status salah seorang karyawan yang berada di divisiku.Saya katakan menyampaikan, bukan mendiskusikan karena memang tidak ada diskusi.Beliau mengatakansudah saya putuskan untuk tidak mengangkat x sebagai karyawan tetap.

Berita ini sungguh mengejutkan, karena beberapa bulan sebelumnya beliau pernah mengatakan kalau si x diangkat sebagai karywan tetap, tetapi SK pengangkatan ditunda karena waktu itu sedang ada project yang sangat mendesak.

Sebagai atasan x , saya sudah menyampaikan perihal pengangkatan ini, kepada x beberapa bulan sebelumnya.Jelas keputusan ini sangat tidak bisa saya terima.Menurutku keputusan ini adalah suatu kesalahan besar,tindakan sewenang-wenang,tidak konsisten,melanggar komitmen yang pernah disepakati walaupun baru lisan.Apalagi dengan alasan yang sangat tidak professional, tidak suka, tidak cocok.

Saya coba tengok ke belakang,karyawan x bersama dengan sejumlah karyawan baru lainnya masuk pada tanggal 14 januari 2008, dengan status karyawan kontrak. Setelah satu tahun, januari 2009,diadakan evaluasi kinerja.Dengan hasil ada yang langsung diangkat sebagai karyawan tetap, ada yang tidak diperpanjang kontraknya ,ada juga yang diperpanjang sebagai karyawan kontrak untuk jangka waktu 6 bulan.Status x pada waktu itu diperpanjang 6 bulan , dengan catatan, apabila mampu memenuhi target akan diangkat sebagai karyawan tetap.Tidak ada komitmen tertulis, hanya komitmen secara lisan.

Pada bulan juli 2009, dari hasil evaluasi ternyata x mampu memenuhi target yang sudah ditetapkan.Berdasar hasil evaluasi tersebut, saya sebagai atasanya berdasar komitmen lisan yang disepakati diawal,menyampaikan rekomendasi untuk pengangkatan karyawan tetap.Hasilnya rekomendasi saya diterima, walaupun harus melalui proses diskusi terlebih dahulu. Sekali lagi hanya dengan komitmen lisan, diputuskan SK diundur setelah pelaksanaan proyek.

Pada kenyataannya pada bulan September 2009, SK tidak diterbitkan , bahkan pengangkatan dibatalkan. Yang lebih tragis lagi pada hari itu juga, seorang staf HRD menghubungi x, menyampaikan berita bahwa hari itu adalah hari terahir x bekerja.Sebuah keputusan yang sewenang-wenang.Beruntung keputusan itu bisa dirubah.Saya lupa berapa lama persisnya x diberi waktu.Kalau tidak salah sampai ahir bulan.

Satu hal yang mungkin tidak disadari oleh beliau,keputusan untuk membatalkan pengangkatan x, pada akhirnya akan memicu rentetan peristiwa yang lebih besar lagi.Saya tidak mau berfikir buruk mengenai sebuah skenario yang mungkin disusun, saya masih punya keyakinan beliau tidak sejahat itu,saya hanya berusaha meyakini pendapat pribadi saya, bahwa beliau tidak menyadari efek pembatalan tersebut.

Ini adalah salah satu contoh nyata kasus yang terjadi didunia kerja,yang mungkin saja bisa terjadi diperusahaan anda, teman teman sekitar anda, saudara anda, atau bahkan anda sendiri.

Selembar surat akan menjadi sangat berharga, ketika kita berhadapan dengan orang yang melanggar komitmen.Terkadang ,seseorang yang sangat dekat dengan kita,sangat kita percaya, bisa berubah dalam sekejap.

Begitu juga bagi anda para pengambil keputusan,seyogyanya bisa megambil keputusan dengan bijak, tanpa melakukan tindakan kesewenang-wenangan.

Mudah-mudahan peristiwa semacam ini bisa kita ambil hikmahnya.

24 Februari 2011


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post